Agung Aswamedha: #CuanBersamaAlumni - Satukan Kekuatan Alumni ITB, Dorong Kemajuan Bangsa Lewat Teknologi
MATA BANDUNG - Agung Aswamedha, alumni Teknik Fisika ITB angkatan 2002, menjadi perbincangan usai memamerkan karya inovatifnya dalam ajang Indo Defence 2025. Sebagai Direktur R&D Sangkuriang Internasional, Agung memperkenalkan Jalarov S11, kapal selam tanpa awak pendeteksi ranjau buatan dalam negeri, yang langsung menarik perhatian Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali.
"Jadi, memang ini dibutuhkan untuk kebutuhan mission profile. Karena kami sebagai grup perusahaan, kami fokus untuk men-support TNI AL,” kata Agung saat ditemui di lokasi.
Kapal selam tanpa awak ini tak hanya mampu mendeteksi, tapi juga menghancurkan ranjau laut aktif. Produk ini dirancang untuk menunjang operasional KRI Pulau Fani-731 dan KRI Pulau Fanildo-732, dua kapal buru ranjau buatan Jerman yang sudah lebih dulu beroperasi.
Agung menjelaskan bahwa seluruh sistem dikembangkan oleh tenaga lokal, sehingga menjamin ketersediaan suku cadang dan fleksibilitas peningkatan teknologi. KSAL Muhammad Ali sendiri menyambut baik karya ini dan menunjukkan ketertarikan serius.
"Kalau kapal patroli baik yang berawak maupun tanpa awak, unmanned surface vehicle maupun yang unmanned underwater vehicle atau autonomous,” ujar Ali.
Meski belum merinci jumlah unit yang akan dibeli, Agung memastikan bahwa proses pengadaan tengah berlangsung.
Hilirisasi Teknologi Pertahanan Lewat Drone VTOL dan Kolaborasi dengan BRIN
Selain Jalarov S11, Agung juga memimpin pengembangan drone VTOL (Vertical Take Off and Landing) dengan teknologi yang seluruhnya dikembangkan di Indonesia. Ia menekankan bahwa pengembangan tidak hanya berhenti di sisi perangkat keras, tetapi juga pada pengembangan perangkat lunak.
"Yang pertama adalah perakitan. Yang kedua—dan mungkin memiliki nilai intelektual properti (IP) paling tinggi—adalah dari sisi software. Kami mengembangkan perangkat lunak yang bisa mengkoneksikan beberapa drone ke dalam satu sistem kendali terintegrasi," jelas Agung.
Ia menambahkan, “Dalam pengembangan ini, kami juga bekerjasama dengan BRIN. Untuk pembuatan air trash—atau mungkin maksudnya sistem pembuangan udara dalam drone—kami bermitra dengan BRIN yang berlokasi di Rumpin, yang dulu merupakan fasilitas milik LAPAN."
"Kami melakukan kolaborasi, sharing fasilitas, baik fasilitas yang dimiliki BRIN maupun fasilitas kami sendiri. Selain itu, kami juga melakukan sharing engineering—saling mengisi antara tim teknis kami dengan tim teknis dari BRIN."
Langkah ini dinilai Agung selaras dengan visi hilirisasi industri pertahanan yang dicanangkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
"Dengan demikian, langkah kami ini sangat sejalan dengan visi Prabowo dalam hal hilirisasi industri pertahanan. Kami yakin bahwa kami mampu menjalankan itu, karena kami terus bekerja sama dan berkolaborasi dengan pemain-pemain lokal di industri ini, juga dengan institusi-institusi yang terkait—baik dari kampus maupun lembaga riset seperti BRIN."
Maju Jadi Ketua IA-ITB: Alumni Bersatu, Pemerintah Terbantu
Di tengah perjalanannya sebagai inovator, Agung juga mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) periode 2025–2029. Misinya jelas: menjadikan IA-ITB sebagai mitra strategis pemerintah.
"Seperti yang sering saya sampaikan dalam berbagai hearing dan diskusi dengan teman-teman, kami memiliki komitmen kuat untuk membawa Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) menjadi mitra strategis pemerintah, khususnya dalam bidang pembangunan inovasi dan teknologi."
Menurut Agung, alumni ITB memiliki posisi kunci di berbagai sektor—mulai dari industri, birokrasi, hingga riset. Namun, potensi ini masih tercerai-berai dan belum terkonsolidasi dalam sistem yang saling menguatkan.
"Sebagaimana kita tahu, potensi alumni ITB sangat luar biasa. Mereka leading di banyak bidang—mulai dari industri, penelitian, perbankan, hingga pemerintahan—baik yang berkarier di dalam negeri maupun di luar negeri."
"Komitmen kami adalah untuk menyelaraskan semua potensi ini menjadi satu kesatuan, dan berjalan seiring dengan agenda-agenda pemerintah."
#CuanBersamaAlumni: Bukan Jargon, Tapi Gerakan Kepercayaan dan Kolaborasi Ekonomi
Untuk mewujudkan visinya, Agung mengusung tagline #CuanBersamaAlumni. Menurutnya, cuan bukan sekadar keuntungan ekonomi, melainkan hasil dari jaringan yang dibangun atas dasar kompetensi dan kepercayaan.
"Tagline kami, ‘Cuan Bersama Alumni’, diartikan sebagai prinsip atau nilai dalam hal berjejaring, dengan orientasi pada hasil dan semangat berbagi," ujarnya.
Agung menilai bahwa alumni harus membentuk trust circle—lingkaran kepercayaan yang konkret, dimulai dari hal kecil namun berorientasi pada dampak besar.
"Oleh sebab itu, 'Cuan Bersama Alumni' adalah bagian dari moto kami untuk menciptakan sirkel-sirkel kepercayaan yang awalnya kecil, lalu berkembang menjadi lebih besar, dan saling terhubung satu sama lain," jelasnya.
Ia pun menegaskan bahwa ini bukan wacana kosong. “Tujuan akhirnya adalah terciptanya sirkel besar yang berbasis kompetensi, berbasis trust, dan memiliki tujuan yang jelas.”
Terhubung Langsung dengan #CuanBersamaAlumni
Bagi alumni ITB dan masyarakat umum yang ingin mengikuti lebih dekat visi, program, serta kontribusi nyata Agung Aswamedha dalam membangun ekosistem alumni yang saling menguatkan, Anda dapat mengakses kanal resmi berikut: Instagram kampanye: https://www.instagram.com/cuanbersamaalumni
Instagram pribadi Agung Aswamedha: https://www.instagram.com/aswamedhas
Sedangkan link resmi untuk pendaftaran pemilu IA-ITB: https://www.instagram.com/p/DKeTi6GR7AV
Melalui kanal-kanal ini, Anda dapat melihat dokumentasi kegiatan, gagasan kebangsaan, pencapaian teknologi, hingga peluang kontribusi nyata yang ditawarkan oleh gerakan ini.***