Naskah Khutbah Jumat 6 Februari 2026: 3 Ibadah Wajib di Bulan Ramadhan

smelectronik- Mendekati datangnya bulan Ramadan 2026, seorang umat Islam disarankan untuk meningkatkan perbuatan baik dan memperdalam rasa takut kepada Allah SWT.

Ya, memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT untuk bertemu dengan Ramadhan sejati jangan sampai disia-siakan begitu saja.

Karena di bulan Ramadhan disarankan untuk meningkatkan amal ibadah, maka umat Islam perlu mengetahui jenis-jenis ibadah yang utama pada bulan ini.

Hal ini bisa disampaikan oleh khatib saat khutbah Jumat, sebagai topik yang penting, menjelang Ramadan.

Karena, hari Jumat sendiri disebut sebagai Sayyidul Ayyam atau Raja Hari, yang diyakini oleh umat Islam sebagai hari yang penuh berkah.

Dan pengingat ini sangat layak dibicarakan, sebelum Ramadan berlangsung beberapa hari ke depan.

3 Ibadah Pokok yang Harus Dibuat Daftar pada Bulan Ramadhan

Khutbah I

Alhamdulillah, Raja Yang Maha Adil, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, pemimpin putra Abdullah, serta kepada keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya sepanjang masa. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, yang terlepas dari bentuk, arah, waktu, dan tempat. Aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, yang akhlaknya adalah Al-Qur'an. Sesudah itu, wahai hamba-hamba Ar-Rahman, sesungguhnya aku menasihati kalian dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, Yang Maha Pemberi, yang berfirman dalam Kitab-Nya Al-Qur'an: "Ia-lah yang menjadikan bumi sebagai tempat tinggal bagi kalian, maka berjalanlah kalian di jalannya dan makanlah dari rezeki-Nya, dan hanya kepada-Nya kalian akan dikumpulkan."

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang selalu memberi banyak anugerah yang tidak terhitung jumlahnya. Anugerah ini diberikan setiap saat kepada kita. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang senang berterima kasih kepada-Nya, yaitu dengan meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Sidang shalat Jum’at rahimakumullah,

Pada kesempatan ini, kami ingin mengingatkan diri sendiri serta kepada umat Islam bahwa di bulan yang penuh berkah ini terdapat tiga bentuk ibadah besar, yaitu zakat, puasa, dan shalat tarawih.

Mengenai zakat, alhamdulillah banyak umat Muslim yang menjalankannya pada bulan ini. Aturan zakat termasuk dalam bentuk ibadah. Juga merupakan salah satu kewajiban dalam agama Islam. Dengan membayar zakat, berarti kita telah melakukan taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah, dan telah memenuhi salah satu rukun Islam. Zakat yang dikeluarkan bukanlah beban yang membuat kita miskin, sebagaimana yang dikhawatirkan oleh setan terhadap orang yang imannya lemah. Namun, justru membayar zakat akan menambah kekayaan seseorang, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Sesat mengancam kalian dengan kemiskinan dan memerintahkan kalian untuk perbuatan keji, sedangkan Allah menawarkan kepada kalian pengampunan dari-Nya dan keutamaan. Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui. {268}

Maknanya: Iblis menipu kamu dengan mengancam kemiskinan dan memerintahkanmu untuk berbuat dosa (kikir); sementara Allah menawarkan kepada kalian pengampunan dari-Nya dan limpahan rahmat. Dan Allah Maha Luas (rahmat-Nya) serta Maha Mengetahui. (QS al Baqarah/2 : 268).

Contoh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti biji yang menghasilkan tujuh tangkai, setiap tangkai berisi seratus biji. Dan Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. {261}

Maknanya: Perumpamaan (harta yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti biji yang menghasilkan tujuh tangkai, setiap tangkai berisi seratus biji. Allah melipatgandakan (balasan) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (rahmatNya) serta Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah/2 : 261).

Dan perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk memperkuat diri mereka sendiri, seperti kebun yang berada di tanah tinggi yang disiram oleh hujan deras, lalu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika tidak disiram oleh hujan, maka airnya cukup. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. {265}

Maknanya: Perumpamaan orang-orang yang menghabiskan hartanya demi mencari kepuasan Allah dan untuk memperkuat jiwa mereka, ibarat sebuah kebun di dataran tinggi yang terkena hujan deras, sehingga menghasilkan buah dua kali lipat. Jika tidak terkena hujan deras, cukup dengan hujan ringan. Dan Allah sangat melihat apa yang kalian lakukan. (QS al-Baqarah/2 : 265).

Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah.

Dalam membayar zakat, kita seharusnya melakukannya dengan penuh kejujuran. Kita keluarkan zakat dari barang-barang yang wajib dizakati, baik jumlahnya sedikit maupun banyak. Kita hitung secara cermat. Agar barang yang sudah seharusnya dizakati, tidak ada yang terlewat sedikit pun. Karena tujuan menunaikan zakat adalah untuk melepaskan diri dari kewajiban yang harus dipenuhi, serta melindungi diri dari ancaman yang sangat mengerikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, mengira bahwa hal itu lebih baik bagi mereka. Sebenarnya, itu adalah buruk bagi mereka. Mereka akan dibebani dengan apa yang telah mereka bakhilkan pada hari kiamat. Dan milik Allah lah warisan langit dan bumi. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. {180}

Maknanya: Janganlah orang-orang yang kikir terhadap harta yang diberikan oleh Allah kepada mereka melalui kebaikan-Nya mengira bahwa sikap kikir itu baik bagi mereka. Sebenarnya, sikap kikir itu justru merugikan mereka. Harta yang mereka sembunyikan akan menjadi beban di leher mereka pada hari kiamat. Dan segala warisan di langit dan bumi adalah milik Allah. Dan Allah mengetahui apa yang kalian lakukan. (QS. Ali Imran/3 : 180).

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, serta tidak mengeluarkannya dalam jalan Allah, maka berilah mereka kabar gembira dengan siksaan yang pedih {34} pada hari dimana emas dan perak itu dipanaskan di api neraka Jahannam, lalu dibakar dengan itu wajah mereka, punggung mereka, dan paha mereka. Inilah harta yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah apa yang dahulu kamu simpan {35}

Mengenai ayat yang pertama, Nabi Muhammad berkata:

Siapa yang diberi oleh Allah harta, lalu tidak menunaikan zakatnya, maka hartanya pada hari kiamat akan dijadikan sebagai binatang yang ganas, berbentuk dua buah kurma, kemudian ia menggigit kedua matanya, lalu berkata, "Aku adalah milikmu, Aku adalah perbendaharaanmu."

Maknanya: Seseorang yang diberi kekayaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tidak menunaikan zakatnya, maka pada hari Kiamat hartanya berubah menjadi bentuk ular yang sangat beracun, memiliki dua gigi tajam dan menyerang dengan dua rahangnya sambil berkata: "Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu".

Sementara mengenai ayat yang kedua, telah dijelaskan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam:

Tidak ada pemilik emas atau perak yang tidak membayar zakatnya, kecuali pada hari kiamat akan dibuatkan lempengan-lempengan dari api yang dipanaskan di neraka Jahannam, lalu digunakan untuk membakar sisi tubuhnya, dahinya, dan punggungnya. Setiap kali dingin, akan diulang kembali. Di satu hari yang lamanya lima puluh ribu tahun, hingga putusan dijatuhkan terhadap hamba-hamba, lalu ia melihat jalannya, baik menuju surga maupun neraka.

Maksudnya: Tidak ada seorang pun pemilik emas dan perak yang tidak membayar zakatnya, kecuali nanti pada hari Kiamat dia akan dibuatkan lempengan-lempengan dari api, lalu dipanaskan di atas api. Lembaran-lembaran itu digunakan untuk menyetrika sisi tubuh, dahi, dan punggungnya. Ketika lempengan itu mulai dingin, akan dikembalikan (untuk dipanaskan kembali). (Kejadian ini) terus berlangsung selama lima puluh ribu tahun, hingga semua hamba selesai dihakimi. Setelah itu, dia akan melihat jalan, mungkin menuju surga atau mungkin menuju neraka.

Kaum muslimin rahimakumullah

Setelah mendengarkan ayat-ayat di atas, seharusnya kita merasa takut terhadap ancaman-ancaman tersebut. Bayarlah zakat dengan penuh kejujuran, dan berikanlah kepada orang yang berhak menerimanya, jangan hanya sekadar melaksanakannya secara asal. Harta zakat tidak boleh digunakan untuk kepentingan lain. Kita berharap, semoga zakat yang kita bayarkan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saudara-saudari muslim, jemaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Selain jenis ibadah pertama yang ada pada bulan ini, yaitu Puasa Ramadhan. Ibadah ini juga merupakan salah satu rukun Islam. Manfaat puasa telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al Qur’an surat al Baqarah/2 ayat 183, yaitu agar kita menjadi orang yang bertaqwa.

Itulah inti dari tujuan berpuasa, yaitu agar kita menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya dengan menjalankan perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya. Oleh karena itu, seorang muslim seharusnya melaksanakan kewajibannya. Dalam menjalani puasa, seorang muslim juga diwajibkan untuk menjauhi hal-hal yang dilarang, seperti berbohong, menggunjing, dan sebagainya. Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruknya, maka Allah tidak membutuhkan baginya untuk meninggalkan makanannya dan minumannya.

Maksudnya: Siapa pun yang tidak meninggalkan ucapan dan tindakan palsu, maka Allah tidak membutuhkan puasanya. (HR Bukhari-Muslim).

Hadits ini menyatakan bahwa seseorang yang berpuasa sangat dianjurkan untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang. Mengapa? Karena hal tersebut sangat berdampak terhadap puasa yang sedang dilakukan.

Namun sangat disayangkan, banyak umat Islam ketika menjalani puasa di bulan ini, keadaannya tidak berbeda dengan saat tidak berpuasa. Ada di antara mereka yang tetap menganggap ringan kewajiban-kewajiban agama, atau masih saja melakukan hal-hal yang dilarang. Sangat menyesalkan sekali. Seorang mukmin yang berakal, tidak akan membuat hari puasanya sama seperti hari-hari biasa. Saat berpuasa, ia akan lebih taqwa kepada Allah, dan lebih giat menjalankan perintah-Nya.

Semoga Allah Swt. menjadikan kita termasuk dalam golongan yang melaksanakan puasa dengan benar, dan semoga puasa yang kami lakukan diterima oleh Allah Swt.

Saya menyampaikan perkataan ini, saya memohon ampunan kepada Allah untuk saya, kalian, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat. Maka mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Yang Pemaaf lagi Pengasih.

Khutbah II

Alhamdulillah wa kafya, wa usalliyu wa asallimu 'ala sayyidina Muhammad al-Mustafa, wa 'ala aalihi wa ashhabihi ahli al-wafa. Asyhadu an la ilaha illa Allah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna sayyidina Muhammad abduhu wa rasuluh. Amma ba'du, ya ayyuha al-muslimuna, uwsiyyakum wa nafsii bi taqwa Allah al-aliyyil 'azhim, wa 'alimuu anna Allah amara kum bi amrin 'azhim, amara kum bil-shalat was-salam 'ala nabiyyihil kariim, fa qala: innallaaha wa malaaikatuhu yusallunu 'ala al-nabiyyi, ya ayyuha alladzina amanu shaluu 'alayhi wasallimu tasliman. Allahu thibbana 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad kama shalayta 'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala aali sayyidina Ibrahim, wa barik 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad kama barakta 'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala aali sayyidina Ibrahim, fi al-'alamina, inna ka hamidun majidun. Allahu thibbana lilmuslimina wal muslimat, wal mu'minin wal mu'minat al-ahyaa minhum wa al-ammwat, allahumma dfa' 'annaa al-bala' wa al-ghala' wa al-wabaa' wa al-fahsya' wa al-munkara wa al-baghy wa al-suuf al-mukhtalifah wa al-shidaad wa al-mihna, ma zhahara minhu wa ma bathana, min badlina hadza khassatan wa min buldan al-muslimina 'amman, inna ka 'ala kulli syai'in qadiir. Rabbana la tuakhidz na in nasiyina aw akhthalna, rabbana wa la tachmil 'alayna isran kama hamaltahu 'ala al-ladziyna min qablina, rabbana wa la tuchammlan ma la taqata lan bih, wa 'afu 'annaa wa ghfir lana wa arhamnana anta maulana fansurna 'ala al-qawmi al-kafirin. Rabbana atina fi ad-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah wa qinna 'adzaba an-nar. Wa al-hamdu lillahi rabbil 'alamin. 'Ibadallah, inna Allah ya'muru bil-'adli wa al-ihsan wa i'ta' dzil qurbay wa yanhiyu 'ani al-fahsyaa' wa al-munkar wa al-baghy, ya'izzukum la'allakum tadhakkaru. Fadzkurullah al-azhim yadzkurkum wa ladzikru Allahi akbaru.

(*)

Baca artikel lainnya dari smelectronik di Google News