Tren E-Commerce Berubah, Fokus pada Kualitas dan Kenyamanan

smelectronik—Industri perdagangan elektronik di Indonesia dianggap memasuki tahap yang lebih berkembang. Konsumen tidak lagi hanya mencari harga terendah, tetapi mulai menempatkan kepercayaan, kualitas, dan nilai jangka panjang dalam berbelanja secara online.
"Jadi jika kita lihat, memang ada pergeseran. Dulu, e-commerce awalnya fokus pada promo, promo, promo, harga terendah, perang harga. Sekarang orang mulai mengenal yang disebut Confidence Commerce. Mereka sudah berbelanja bertahun-tahun dan mulai lebih bijak. Jadi mereka tidak hanya mencari harga paling murah, tetapi juga nilai yang diberikan," kata Commercial Director Lazada Indonesia, Erika Agustine, kepada smelectronik, Selasa (27/1).
Menurut Erika, para pelanggan saat ini mempertimbangkan berbagai hal sebelum melakukan pembelian. Harga tidak lagi menjadi satu-satunya penentu, tetapi merupakan bagian dari paket nilai yang lebih luas.
Misalnya, jika ingin membeli sepeda motor, bukan hanya mencari harga yang paling murah, tetapi juga mencari platform yang aman, andal, memiliki cashback, serta asuransi. Jadi, seluruh nilai tersebut tercakup dalam satu paket. Orang kini lebih memahami platform mana yang dapat dipercaya, dan penjual mana yang bisa dipercaya," katanya.
Ia menyebutkan, pada awal maraknya belanja online, kejadian penipuan sering terjadi karena konsumen hanya tertarik pada harga yang murah. "Sekarang pelanggan lebih cerdas, mereka mencari tempat yang dapat dipercaya. Bagaimana kondisi penjualnya, seperti apa mereknya. Jadi lebih memprioritaskan keaslian dan kualitas," katanya.
Dengan perubahan tersebut, Erika mengungkapkan bahwa ia memperkuat perhatian terhadap kanal produk resmi melalui LazMall. Di kanal ini, barang yang dipasarkan berasal dari merek, distributor resmi, atau pemilik merek yang telah diverifikasi.
"Nah, ini selaras dengan Lazada juga, kita memang ingin fokus pada LazMall. Karena di LazMall kita memiliki merek-merek asli. Jadi semua produk yang dijual di sana pasti dari penjual yang terverifikasi, distributor resmi, atau bahkan langsung dari pihak merek utama," kata Erika.
Selain aspek kepercayaan, pihaknya juga memperhatikan perubahan pola belanja masyarakat. Jika sebelumnya para konsumen lebih berfokus pada kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau, kini aktivitas belanja lebih dipengaruhi oleh perkembangan gaya hidup dan peningkatan produktivitas.
"Pertama, perubahan gaya hidup. Mereka ingin meningkatkan kualitas hidup, mungkin akan membeli alat elektronik rumah tangga, atau ponsel yang lebih sesuai dengan gaya hidup mereka. Selain itu, juga lebih fokus pada hal-hal yang mendukung produktivitas," jelas Erika.
Di sisi lain, lingkungan para pembuat konten dan afiliasi juga semakin berkembang seiring dengan perkembangan perdagangan elektronik. Erika mencatat semakin banyak masyarakat yang tertarik menjadi afiliasi dengan membagikan rekomendasi produk.
Berbeda dari yang biasanya, program affiliate Lazada dinilai oleh Erika lebih terbuka. “Lazada Affiliate sedikit berbeda dengan influencer media sosial, karena siapa saja bisa mendaftar. Tidak perlu memiliki banyak pengikut, tetapi tetap bisa ikut dalam Lazada Affiliate. Siapa saja bisa berbelanja dan berbagi, nanti jika ada transaksi akan mendapatkan komisi. Itu yang diterima oleh setiap affiliator,” tambah Erika.