Efek Buruk dan Langkah Mudah untuk Melepas Diri dari Media Sosial

smelektronic , Jakarta - Kecanduan terhadap media sosial kini menjadi masalah yang kian mengkhawatirkan. Dalam beberapa tahun belakangan, pemakaian aplikasi yang memungkinkan pengguna berinteraksi serta menonton video seperti Instagram dan TikTok mengalami lonjakan signifikan, sehingga menjadikan media sosial sebagai bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian.

Walaupun media sosial memberikan kemudahan dalam berinteraksi dan berbagi pengalaman, dampak buruknya terhadap kesehatan mental tidak bisa diabaikan. Dikutip dari Psychology Today , dari sudut pandang kesehatan mental, terdapat kekhawatiran mengenai efek negatif dari penggunaan media sosial yang berlebihan, khususnya pada anak-anak dan remaja.

Sebuah penelitian terkait kesehatan mental akibat kecanduan media sosial menunjukkan, bagi sebagian individu, penggunaan platform ini berkaitan dengan berbagai gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, rasa kesepian, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), serta kecanduan itu sendiri.

Hal ini disebabkan oleh sifat media sosial yang sangat mudah diakses melalui perangkat seluler maupun komputer, serta hubungan pengguna yang sangat erat secara daring. Sifat media sosial yang selalu aktif dan mudah diakses mendorong kebiasaan memeriksa secara berlebihan, yang kemudian memicu kondisi fear of missing out (FOMO) atau rasa takut tertinggal informasi.

Tak hanya itu, studi terbaru juga menunjukkan bahwa kecanduan media sosial di kalangan remaja berkaitan dengan meningkatnya gejala depresi dan kecemasan.

Dilansir dari CNET , berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memulai detoks media sosial:

1. Menetapkan Tujuan yang Realistis

Detoks digital bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari tidak menggunakan perangkat teknologi sama sekali, menjauhi media sosial, hingga membatasi waktu penggunaan layar setiap harinya. Kunci utamanya adalah memastikan bahwa tujuan tersebut dapat dicapai dan sesuai dengan kemampuan masing-masing individu.

2. Membentuk Batasan yang Sehat

Beberapa situasi dalam kehidupan sehari-hari dapat dimanfaatkan untuk membatasi penggunaan media sosial, seperti saat berolahraga, sebelum tidur, saat baru bangun tidur, saat makan, maupun ketika sedang bersama orang-orang terdekat. Misalnya, saat berolahraga, sebaiknya menghindari membuka media sosial agar lebih fokus dan tidak terganggu. Sebelum tidur, disarankan untuk mengurangi paparan layar karena bisa mengganggu kualitas tidur.

Di pagi hari, menjauh dari media sosial dapat membantu memulai hari dengan lebih tenang, tanpa terpengaruh informasi negatif yang bisa menimbulkan stres. Selain itu, membiasakan diri tidak menggulir media sosial saat makan bisa meningkatkan kesadaran terhadap makanan yang dikonsumsi. Begitu juga ketika berkumpul dengan orang terkasih, sebaiknya menjauhkan ponsel agar bisa lebih hadir dan menikmati momen kebersamaan.

Untuk mendukung keberhasilan detoks, penting juga untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menyehatkan secara mental dan fisik. Kegiatan seperti mencoba hobi baru, berolahraga, membaca, menulis jurnal, menjadi relawan, atau sekadar bersantai dengan orang terdekat bisa menjadi alternatif menyenangkan yang menjauhkan dari keinginan untuk kembali membuka media sosial.

3. Memberi Penghargaan kepada Diri Sendiri setelah Berhasil Menjalani Detoks

Meskipun tidak memungkinkan untuk sepenuhnya melepaskan diri dari media sosial, menetapkan batasan yang sehat tetap dapat membantu mengurangi waktu yang dihabiskan secara online. Memberi hadiah kecil kepada diri sendiri, seperti memasak makanan favorit atau menonton film di bioskop dapat menjadi bentuk apresiasi atas usaha yang telah dilakukan.

Ni Made Sukmasari dan Haura Hamidah ikut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.