Apakah Flaps Menjadi Penyebab Kecelakaan Boeing 787 Dreamliner di India?
smelektronic , Jakarta - Kementerian Penerbangan Sipil India telah mengumumkan dimulainya investigasi atas kecelakaan pesawat Air India AI117 yang menewaskan 270 orang. Spekulasi yang beredar sejauh ini menunjuk ke sejumlah kecurigaan sebagai penyebab pesawat kehilangan daya angkat saat take-off sehingga jatuh kembali tersebut.
Salah satunya adalah tentang fungsi atau operasional flaps . Sirip pada sayap pesawat ini adalah bagian dari flight control yang kritikal karena berperan, antara lain, menambah daya angkat saat pesawat lepas landas atau take off .
Seperti diketahui, kecelakaan pada Kamis lalu terjadi saat pesawat jenis Boeing 787 Dreamliner itu sedang mencoba lepas landas dari bandara di Ahmedabad. Rekaman CCTV berdurasi 59 detik menunjukkan pesawat bergerak turun dengan posisi badan yang tetap menanjak.
Pesawat itu mulai turun seperti kehilangan daya angkat 17 detik setelah roda-roda pesawat itu meninggalkan landasan. Media-media di India melaporkan seruan Mayday sempat dibuat pilotnya sambil menyatakan pesawat tak ada tenaga untuk naik.
Seorang mekanik pesawat menerangkan kepada Tempo tentang flaps . Sirip sayap ini ada dua di setiap sayap pesawat, yakni di bagain inboard dan outboard . Jadi, total, ada empat flap di kiri dan kanan yang masing-masing bisa diturunkan atau panjangkan ( extend ) dan ditarik kembali ( retract ).
Ilustrasi Flaps pada pesawat. Shutterstcok
Saat pesawat hendak lepas landas, flaps agak diturunkan untuk menambah daya angkat. "Di- extend tapi nggak full karena engine -nya full power saat take off ," kata pria yang memiliki pengalaman panjang dalam pemeliharaan pesawat penumpang maupun kargo ini.
Sepanjang penerbangan ( cruising ), flaps ditarik kembali ke dalam. Saat pesawat mau mendarat ( landing ), flaps dalam posisi full extend . Posisinya berbeda saat pesawat hendak take off karena mesin saat pesawat hendak mendarat low power .
"Jadi ambil daya angkatnya full , melayang sambil ngepasin titik landing -nya biar smooth ," ujarnya sambil memberi ilustrasi dengan mobil yang berada pada jalan menurun, "gas-nya kan low d ibanding saat mobil menanjak."
Tentang spekulasi flaps sebab kecelakaan Air India, dia menyarankan menunggu hasil pemeriksaan kota hitam pesawat yang berupa data rekaman suara kokpit dan data rekaman penerbangan. Alasannya, sebuah pesawat akan taxi atau bergerak hanya setelah semua mesin hidup dan parameter-parameternya terlihat normal.
"Pilot pasti cek semua flight control , yang ada di sayap dan yang di belakang, yaitu elevator dan rudder ," katanya sambil menambahkan, "Semua ada check list -nya. Kalau ada kejanggalan pilot akan balik lagi ke gate . Mereka tidak akan berani jalan kalau terlihat tidak normal."
Keterangan itu dikuatkan oleh seorang pilot maskapai nasional yang biasa menerbangkan pesawat jet berbadan lebar. Dia menjelaskan flaps digunakan terutama saat mau landing dan take off . Tepatnya, kata dia, "Saat pesawat butuh kecepatan rendah."
Menurutnya, pesawat jet dituntut terbang lebih tinggi dan lebih cepat. Untuk itu dibuat sayap yang tipis dan kecil. Alhasil saat berada pada kecepatan rendah, daya angkatnya tidak akan cukup untuk menahan pesawat jet tetap terbang.
"Karenanya dibuatlah flaps untuk menambah penampang sayap sesuai rumus lift = 1/2 rho.V².Cl.S dimana S luas penampang sayap," katanya menjelaskan dalam keterangan tertulis.
Dia juga membenarkan adanya indikator peringatan dalam pesawat apabila flaps bermasalah. "Misalnya, mau take off flaps- nya nggak bisa turun, ya jangan take off . Dibetulkan dulu."